Selasa, 03 Desember 2013

HAKIKAT PRESTASI

www.kopertis3.or.id
Dulu ketika aku menjelma menjadi seorang dewasa, harapanku satu; “ingin sukses berprestasi”. Keberhasilan harus kuraih. Tak peduli berapa ratus liter keringat yang harus ku keluarkan. Yang terpenting adalah aku bisa mendapatkan apa yang aku impikan.
Seiring bertumbuh kembangnya kedewasaan dan cara berpikirku, aku mulai menemukan esensi di balik harapanku dulu; pencapaian kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Ya itulah mungkin hakikat dari prestasi yang ku idam-idamkan. Namun disayangkan naluri manusia berjalan, NALURI BERPRESTASI TANPA BATAS. Kalau dalam bahasa psikologi konvensional, hal ini termasuk pada ranah “power motive” yang di dalamnya terdapat “achievement motive”. Dimana eksekusi menghalalkan segala keanekaragaman cara demi meraih prestasi.
Banyak orang-orang yang menerobos rambu-rambu kemaksiatan demi kebahagian tentatif. Yang penting memiliki prestasi tersohor, walau terkadang tekor. Banyak orang tua yang memaksa anak-anaknya untuk berprestasi (ranking) atau menyogok para guru agar anaknya mendapat prestasi akademik yang tinggi di Sekolah. Banyak para pejabat yang melakukan money politic agar masyarakat memilihnya menjadi pejabat public lalu terkenalah mereka dan banyak uang bahkan saking tidak puasnya mereka melakukan praktek korupsi. Banyak mahasiswa yang mengejar IPK tinggi, mendapat banyak sertifikat agar terkesan rajin, tampil dimana-mana supaya terlihat aktif dll. Astaghfirulloh…Astaghfirulloh. . .Astaghfirulloh. . .

Kesalahpahaman dalam mengartikan prestasi, membuat kita salah dalam bertindak. Mengukur nilai prestasi dari hasil yang nampak. Apabila nampak hasilnya maka prestatif, apabila tidak nampak sesuai dengan harapan maka gagal atau tidak berprestasi. Padahal prestasi yang hakiki tidak sebatas pada puncak pencapaian, tetapi sejak dari niat karena Allah dan selama proses yang diproses dengan ruh syari’ah dan aqidah Islam, maka ketika itu pula sudah bernilai prestasi sebab ketika itu pula Allah Swt memberikan pahala atas segala usahanya, sekecil apapun. Dengan demikian, maka setiap amal perbuatanya adalah “based on” karena Allah Swt, maka sudah masuk dalam ranah amal prestasi hakiki.

Rifni Nurdieni-KKI 2012
gambar ilustrasi diambil dari www.kopertis3.or.id

SAAT HIJAB HANYA AKSESORIS KAMPUS

www.kartunisubi.com
Banyak kita temui muslimah-muslimah yang belum menyempurnakan kewajiban dalam menutup aurat. Saya sendiri adalah seorang mahasiswi, yang dimana tempat kampus saya berada semua muslimah alhamdulillah sudah menutup aurat. Tapi tak jarang menutup auratnya pun minim. Sehingga hampir tak ada perbedaan dengan halnya mengumbar aurat. Pakai rok panjang tapi tipis menerawang, pakai baju, terlalu ketat. Padahal syarat-syarat pakaian syar’i itu tebal, tidak ketat dan tidak menerawang. Hal yang lebih saya sayangkan lagi adalah, saya seringkali mendapati mahasiswi yang setelah keluar dari kampus, entah kemana hijabnya juga sudah tidak dipakai. Bukankah berhijab itu kewajiban Allah yang tertera jelas dalam Q.S An-Nuur ayat 31 dan Q.S Al-Ahzab ayat 59 ?

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “. (Q.S Al-Ahzab : 59)

 Berhijab bukan hanya sekedar tuntutan karena belajar di kampus islam yang mewajibkan berpakaian syar’i dan mengenakan hijab, dan saat keluar gerbang kampus hijabnya pun dibuka. Astaghfirullaah.. betapa mirisnya melihat fenomena seperti ini. Saya sebagai remaja muslim jelaslah merasa sedih karena melihat saudara seiman yang masih belum paham benar kewajiban dalam berhijab.

Dan sekarang, entah karena memang sudah zamannya, media sosial seperti facebook, twitter, instagram, path dan lain-lain adalah media sosial tempat berbagi moment-moment indah. Mulai dari foto hingga lokasi. Nah, masih banyak juga kita dapati para muslimah-muslimah kita ini kerap kali mengunggah foto-foto yang tidak berhijab. Terus apa intinya berhijab dalam kehidupan sehari-hari tapi di sosmed mengunggah foto-foto yang tidak berhijab? Meskipun itu mungkin hanya foto, tetapi itu tetaplah aurat, yaitu bagian yang harus di tutup. Menutup aurat itu kan dimana-mana di dunia nyata dan di dunia maya (juga). Jadi sebaiknya foto-foto tanpa hijab di hapus saja atau di privasi “only me” sehingga tidak terpublikasikan ke umum.

Muslimah, keindahan dalam dirimu itu patut dijaga, “cover your awrah whenever a non-mahram is around you”. Bukan masalah “ah. dia temanku, biasa aja kali” atau “ah cuman pergi kesitu dekat aja gausah pake hijablah, ribet” tetapi masalahnya itu adalah, dia temanmu atau bukan, kamu pergi jauh atau dekat, itu tetaplah auratmu. Bagian yang harus selalu dijaga dan di tutupi. Islam itu mudah, hanya terkadang kita mempersulit diri. Buktinya? Allah memerintahkan menutup aurat itu untuk mempermudah kita dalam beraktifitas, agar kita mudah dikenali dan agar kita tidak di ganggu. Kalau kita menutup aurat dengan rapi, paling-paling dapat ucapan salam dari teman bukan siul-siulan, hehe.

Saya pun menulis ini hanya sekedar berbagi tentang hal yang saya ketahui, saya menulis ini bukan berarti saya sudah baik. Nobody’s perfect. Tetapi, marilah kita sama-sama memperbaiki diri. Kita sama-sama belajar untuk menjadi muslimah yang lebih baik lagi. Mungkin masalah hijab adalah 1 dari sekian ribu masalah yang harus kita hadapi dan selesaikan. Tetapi semoga dari hal-hal kecil ini kita bisa menjadi muslimah yang istiqamah. Aamiin^^


 Zaeirena Humairoh-KKI 2013
twitter : @zaeirena

gambar ilustrasi diambil dari www.kartunisubi.com

Senin, 02 Desember 2013

NIKMATNYA ORGASME INTELEKTUAL

hackeem004.blogspot.com 
Mungkin pembaca terperangah sejenak membaca judul tulisan ini. Judul tulisan ini sangat relevan di bahas dewasa ini. Mengingat banyak mahasiswa yang sudah melupakan kenikmatan tersebut. Ketika mendengar kata “orgasme” maka kebanyakan orang akan berfikir negatif. Orgasme selalu dihubungkan dengan kenikmatan yang didapatkan oleh pasangan suami-isteri setelah berhubungan intim, ataupun pasca mimpi basah bagi para pemuda yang masih lajang alias jomblo.

Sehingga makna orgasme selalu dikaitkan dengan kenikmatan biologis semata. Padahal, ada orgasme yang kenikmatannya melebihi dari kenikmatan orgasme biologis yaitu orgasme intelektual. Jika orgasme biologis hanya dinikmati beberapa menit setelah berhubungan intim dan mimpi basah. Akan tetapi, orgasme intelektual akan dinikmati sepanjang jam, bahkan sepanjang perjalan hidup manusia.

Orgasme intelektual hanya mampu dirasakan oleh para mahasiswa yang memiliki motivasi kuat untuk terus belajar dan belajar. Ketika dalam proses pembelajaran dia terus menikmati proses belajarnya itu, bahkan hingga terlupakan melakukan pekerjaan yang lain. Maka di saat itulah mahasiswa tersebut merasakan nikmatnya orgasme intelektual.

Mahasiswa yang sudah merasakan orgasme intelektual seakan-akan tempat tinggal mereka berubah menjadi gudang perpustakaan. Hidupnya nomaden seperti manusia purba. Artinya, hidup mereka berpindah-pindah dari satu toko buku ke toko buku lainnya, dari satu perpustakaan ke perpustakaaan lainnya, dari satu seminar ke seminar lainnya dan seterusnya. Sehingga dalam dirinya sudah tertanam kuat bahwa satu hari tidak baca buku, satu hari tidak ke perpustakaan, maka batin mahasiswa tersebut seakan-akan berteriak sambil menangis. Begitulah keadaaan mahasiswa yang sudah merasakan orgasme intelektual.

Lihat saja bagaimana orgasme intelektual para Ulama, mereka rela jalan kaki lintas daerah bahkan negara hanya untuk menuntut ilmu. Begitu pula dengan Ulama Hadist, mereka rela minum air kencing sendiri karena kehabisan bekal hanya untuk memastikan keshahihan sebuah hadist. Mereka rela tidak makan dan minum berhari-hari demi mencapai orgasme intelektualnya. Sehingga buah dari orgasme mereka tersebut sekarang berada di tangan seluruh manusia di jagat raya ini. Sebut saja di antara buah orgasme intelektual monomental salah satu ulama besar umat Islam, yaitu Imam Nawawi, seperti Kitab Arba’ain An-Nawawiyah, Kitab Riyadhus Shalihin, Kitab Al-Adzkar dan lainnya. Kitab-kitab tersebut menjadi rujukan para pelajar Islam di seantero dunia untuk memahami keindahan Islam.

Menurut penulis, salah satu ilmuan Indonesia yang sudah merasakan orgasme intelektualnya adalah BJ. Habibie (Presiden ketiga RI). Dalam beberapa literatur yang mengupas tentang dirinya, beliau hanya tidur dua jam saja, selainnya digunakan untuk membaca buku dan belajar. Karena dalam dirinya sudah tertanam kuat akan motivasi pentingnya pengetahuan.

Nah, sekarang mari kita mengaca diri. Apakah kita sebagai mahasiswa sudah merasakan nikmatnya orgasme intelektual?, berapa buku dalam sehari yang kita baca?, berapa kali ke perpustakaan dalam sehari?, berapa banyak uang saku kita sisihkan untuk memberli buku? Serta berapa kali selama menjadi mahasiswa mengikuti seminar yang diadakan oleh berbagai pihak?. Tidak perlu dijawab dengan suara keras, malu di dengar sahabat kita di sebelah. Cukup dijawab dalam hati saja. Dengan jawaban tersebut maka simpulkanlah, apakah kita sudah merasakan nikmatnya orgasme intelektual?. Jika belum, lantas apa yang membedakan mahasiswa dengan kuli bangunan, tukang becak, penjual sayur?.

Tulisan ini mengajak para mahasiswa untuk kembali ke khittahnya sebagai mahasiswa. Sehingga mahasiswa merasakan nikmatnya orgasme intelektual. Karena tanpa merasakan kenikmatan tersebut, maka sia-sialah kita menjadi mahasiswa. Tambah lagi, merasa senang bila dosen tidak mengajar berhari-hari dengan berbagai alasan. Jika itu yang kita lakukan, maka lebih baik pulang kampung bantu mencari nafkah untuk kebutuhan hidup keluarga. Ataupun lebih baik berhenti untuk menjadi mahasiswa, agar tidak memperburuk citra mahasiswa yang sudah merasakan nikmatnya orgasme intelektual.

Oleh karena itu, mari kita bertekad dan menyatukan langkah untuk menyemarakkan berbagai macam kegiatan keintelektualan baik di dalam maupun di luar kampus. Mari kita budayakan kembali untuk menghadiri berbagai diskusi, seminar ataupun mari berbondong-bondong memenuhi perpustakaan yang telah disediakan kampus untuk membaca buku maupun berdiskusi. Karena kebiasaan tersebut akan menjadikan kita merasakan nikmatnya orgasme intelektual. Selamat mencoba!.  

Adnan
Mahasiswa Komunikasi Islam, Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id


TIGA MAHASISWA KKI MENANGKAN DUA CABANG LOMBA DI GEMA MUHARRAM UMY


UMY (2/12) Rangkaian lomba pada Gema Muharam 1435 H yang diselenggarakan oleh Takmir Masjid KH. Ahmad Dahlan UMY telah resmi ditutup dengan Training Motivasi oleh Ma’mun Affany. Bersamaan dengan itu, pengumuman para pemenang lomba diumumkan di akhir acara, mulai dari tingkat TPA hingga mahasiswa.

Alhamdulillah, tiga mahasiswa KKI memenangkan dua cabang lomba, yakni Ikram Al-Zein dan Nuroh Maeyani meraih juara satu dan dua pada lomba kaligrafi, juga ada Lia Kaulina Suci Ningtyas sebagai penyandang juara dua Hifdzil Qur’an.

Rasa bahagia dan bangga tergambar dari wajah mereka, juga teman-temannya yang menyaksikan pengumuman maupun yang memberi dukungan.

Selamat untuk Ikram, Nuroh dan Lia! Semoga prestasi kalian menginspirasi banyak orang untuk terus memperkenalkan dirinya dengan berprestasi. (Dfe)

Kamis, 28 November 2013

MEMBACA, LALU MENULISLAH! ^^

Tulisan ini terinspirasi setelah saya menonton tayangan negeri 5 menara, mungkin sudah yang kesekian kalinya saya memutar film ini. Bukan karena saya begitu tertarik melihat sesosok Alif  si  photografer yang cerdas itu, Namun karena film ini adalah sebuah film yang mengisahkan tentang kegigihan para shohibul menara yang memiliki visioner dan cita-cita yang tinggi dalam menaklukkan dunia.  saya rasa film ini sudah tak asing lagi di mata teman-teman semua.

“kamu bisa merubah dunia hanya dengan kata-kata”

Itu adalah kutipan salah satu scene film “Negeri 5 Menara” ketika Alif akan mendaftar menjadi seorang Jurnalis di Ma’hadnya. Nah yang disebut mengubah dunia dengan kata-kata itu tak sepenuhnya dengan kalimat verbal, karena pada dasarnya kalimat verbal hanya akan terucap sekali dan selanjutnya akan punah ditelan waktu. Namun saya rasa “dengan kata-kata” atau pada terjemahan arabnya “bil kalimah” disini lebih mengerucut pada sebuah tulisan. Dimana dengan sebuah tulisan, kau akan abadi dan dunia akan lebih mengenalmu.

Guys.. Ibaratkan kita ingin membuat masakan yang enak, kita kan juga harus tau resepnya, bukan hanya pintar mengupas bawang atau cabe, melainkan bagaimana cara kita memadukan bahan-bahan tersebut menjadi masakan yang enak. (berasa udah pinter masak aja, hehe) nah sama juga dengan halnya menulis, terkadang yang menjadi problematika adalah bagaimana kalau kita belum mampu menulis dengan baik? (ah, kata siapa...merem sambil nulis A,B,C juga uda mahir kok).

Akhir-akhir ini saya begitu bersemangat untuk memainkan jari di atas laptop, bermain kata atas hati yang berbicara. Tapi tak jarang ketika ide di otak saya sedang meletup-letup justru saya terkendala untuk menuliskannya dengan kekuatan bahasa maupun diksi yang indah. Akhirnya saya sering membuka artikel atau tulisan seseorang yang selalu membuat saya tertarik untuk membacanya, ada magic yang berhasil menyeret saya masuk dalam keindahan kata, serta kerapian tulisannya. Semisal blog mbak asma nadia, kakek jamil azzaini, dokter berpeci  dan mas ervan abu nangim. Hampir setiap hari saya membaca tulisan terbaru kakek jamil yang memang di posting setiap hari di web dan tulisan mas ervan juga selalu terbit di blog setiap senin dan kamis. Banyak hal inspiratif yang dimuat dalam berbagai tulisan itu, dan saya suka. Mengingat problema menulis tadi, Saya pun makin penasaran dengan resep yang di pakai oleh mereka.

Akhirnya, rasa penasaran itu membawa saya pada jurusan “kepo” (istilah yang begitu marak di kalangan remaja) saya cari tau resep yang dipakai oleh asma nadia, dan yang saya dapatkan dari wanita penuh semangat, optimis juga humoris ini adalah “semua dimulai dari niat yang teguh, motivasi, itulah modal awal untuk menjadi seorang penulis “ namun, terkadang beliau juga seringkali mengalami stagnasi dalam menulis, sehingga beliau berujar “banyak membaca dan tingkatkan jam terbang menulis

Jleb! ada satu kata yang membuat saya tertegun “membaca”. Sudah kah kita melakukan hal yang satu ini? Ah rasanya ada sebuah penyesalan terdalam, tak heran jika tulisan saya masih ecek-ecekan, karena saya pun belum istiqomah dalam membaca buku. Hal ini membuat saya teringat pada masa SMA, buku bacaan yang iseng saya pinjam dari perpustakaan sekolah namun berhasil membuat saya  jatuh hati pada pengarangnya. Judul bukunya “agar bidadari cemburu padamu” karya Ust. Salim A. Fillah.

karya.riyanputra.com. Mengisyaratkan Bahaya (Ketegangan
Tidak jauh beda dengan resep dari asma nadia, namun hal yang paling mencengangkan adalah ketika kelas 5 SD, beliau sudah belajar sejarah, biografi tokoh, filsafat, dan psikologi. Semua itu beliau pertegas di paragraf-paragraf selanjutnya bahwa hobi beliau untuk membaca memang begitu dahsyat. Kalau ada yang pernah baca bukunya Ust. Salim, pasti heran banget itu buku banyak banget rujukan nya ataupun pengarang yang beliau kutip. Sejak duduk di sekolah menengah, beliau sudah aktif sekali menulis artikel-artikel meskipun kenyataannya artikelnya tidak pernah ada yang dimuat media maupun pernah menang lomba kepenulisan. Tapi semangat beliau untuk membaca dan menulis sungguh amat sangat gigih sekali. Tak pernah merasa jatuh. Tetap kokoh dengan semangatnya.

Lagi lagi hati ini tertegun, mengingat zaman kelas 5 SD saya yang jauh berbeda dengan beliau. ah, mungkin teman-teman  paham  apa yang saya lakukan.  Saya lebih banyak disibukkan dengan bermain game super mario, boneka barbie atau lebih banyak menghabiskan waktu berlibur dengan teman sebaya. Kalaupun harus membaca, ya paling-paling sebatas pelajaran sekolah yang di baca abis shubuh. Sangat berbeda dengan sosok beliau, padahal sama-sama SD yah, Cuma hoby nya aja yang berbeda. Padahal kalo di ingat dari kelas 1 SD, orang tua saya sudah berlangganan majalah bobo dengan tujuan melatih minat baca anaknya. Yah ujung-ujungnya yang dibaca hanya sekedar komik bergambar bona, ataupun cerpen yang memuat gambar lucu, setelah itu juga jadi sampah atau kertas yang dilipat berbentuk perahu. Hehe gak beres kan?

Lalu terlintas dalam pikiran saya, apa kabar anak kelas 5 SD sekarang? Apa kabar pemuda sekarang? Sudahlah! cukup menjadi muhasabah bagi saya dan teman-teman semua. Yang jelas, saya berjanji akan mengarahkan anak saya kelak untuk memprioritaskan waktunya dengan membaca. Jangan sampai mengulang sejarah kelam dari bunda nya ini, lalu inti dari pembicaraan saya yang cukup panjang ini adalah “MEMBACA ITU PENTING” bukankah wahyu pertama yang allah turunkan kepada nabi muhammad adalah “iqra” BACALAH !. Dari membaca, teman-teman  akan memiliki banyak hal, semakin banyak membaca maka semakin banyak hal yang teman-teman punya dan orang lain tak punya. Hidup ini persaingan, dan dunia hanya mau menerima orang-orang terbaik, serta salah satu upaya untuk menjadi orang terbaik adalah dengan membaca. Tak peduli bacaan apapun itu, yang pasti positif dan bermanfaat. Dari membaca nanti kita akan lebih sedikit naik level yang lebih tinggi, yakni menulis. Karena menulis tanpa membaca adalah omong kosong dan membaca tanpa menulis adalah kerugian. Tulisan yang baik adalah tulisan yang memiliki kekuatan besar baik dalam gaya bahasa, diksi, ataupun kekuatan untuk membawa pembaca masuk dalam nuansa tulisan, dan tak dapat dipungkiri penulis yang seperti ini harus banyak sekali memiliki refrensi bacaan.

START NOW  GUYS...!

“ngak harus kaya untuk bisa travelling ke berbagai negara.
Tapi buat dirimu berdaya. Isi waktumu dengan berprestasi dan membangun eksistensi.
Jilbab bukanlah pembatas mimpi”
_Asma Nadia_



27 November 2013

Ditulis oleh gadis bergamis ungu, KKI 2012

Minggu, 24 November 2013

FA FIRRU ILALLAH! :)

“Fa firruu ilallah”—sudah hafal dengan kalimat perintah tersebut? itulah potongan ayat dalam surah Az-Zariyat ayat 50 dalam kitab Peringatan-Nya. Begitu saya membaca kalimat ini rasanya ada magnet yang mendorong saya untuk membaca terjemahannya. Oh rupanya..”maka bersegeralah kembali (mentaati) Allah”. Dengan spontan saya langsung mengucapkan kepada teman yang baru saja pulang dari kampus, dan hendak mendirikan shalat maghrib, ia sudah memakai mukena dan menghamparkan sajadah, “Mus, fa firruu ilallah!”. Responnya? Sedikitpun Mustika tak menoleh, ada rasa sedikit kecewa sih.. tapi terobati karena ia segera mengangkatkan tangan dan “Allahu Akbar”, suaranya lirih. Dalam benak saya, “Oh Mustika udah paham tho”, lanjut membaca terjemahan ayat lainnya.

Usai salam ia langsung bertanya pada saya, “Eh Din, tadi kamu bilang apa sebelum aku shalat?” nadanya yang selalu antusias kalau bertanya dan serius. (Hadew -_- kirain udah paham :D). “Fa firruu ilallah!” sambil setengah mengacungkan telunjuk. Hehe. “Artine opo e?” tambah antusias. Segera saya cek ulang kalau-kalau ada yang salah, ”maka bersegeralah kembali (mentaati) Allah, Mus..”. “Oh jadi kamu nyuruh aku kembali kepada Allah setelah pulang dari kampus?” senyumnya menyeringai. “Eh, bukan aku yang nyuruh lah, Mus… Udah jelas Allah yang nyuruh langsung…”, nada so’ tegas. “Iya e Din, berarti dalam keadaan apapun kita harus tetap kembali pada Allah ya, lagi capek, lagi sedih, lagi seneng, ah pokonya dalam keadaan apapun”. “hehe..siipp banget, Mus”, giliran si jempol yang diacungkan.


Nah, ini nih yang sering kita abaikan. Begitu banyak kalimat peringatan yang Allah Swt. tujukan kepada kita melaui media komunikasi-Nya, Al-Qur’an, tapi kita tak menggubris sedikitpun untuk menjalankan perintah-Nya Yang Agung. Tagihan biaya sekolah, tagihan listrik, tagihan kreditan, dsb justru sering kali menempati posisi lebih utama untuk ditanggapi dibandingkan dengan peringatan dari Sang Maha Pemberi itu semua. Kita justru membenturkan diri pada dalih-dalih bandel, “Kalau nggak segera saya lunasi kan nanti dikeluarkan dari sekolah. Kalau nggak cepet-cepet dibayarkan kan malu sama tetangga. Bla, bla, bla :p”. Wah, berasa semuanya emergency banget alias kepepet.

Biar Allah yang urus, boss.. bukankah segala urusan itu datangnya dari Allah? Setelah kita berdo’a dan berusaha kan eksekutornya Allah… serahkan semuanya pada Allah, bukan kepada tetangga yang siap minjemin duit. Hehe.. penjaminannya kan juga telah disebutkan berkali-kali, “Dialah Yang Maha Pemberi”.

Tidak sembarang lho Allah melontaran kalimat peringatan-Nya. Peringatan-Nya tentang apapun dalam Al-Qur’an dilatarbelakangi oleh ulah kaum-kaum yang sudah kelewat batas, ada Kaum Nabi Nuh yang dibinasakan oleh banjir besar, Kaum Nabi Luth yang dihujani batu, dan ada juga Fir’aun beserta kaumnya yang ditenggelamkan di laut Merah atas kesombongannya karena mengaku dirinya sebagai tuhan. Naudzubillah kalau kita termasuk golongan yang melampaui batas.

Begini, saat kita dirundung kegalauan maka segeralah perintahkan secara otomatis diri kita 
untuk tergerak kembali pada-Nya, berdo’a, curhat sama Allah, minta diberi petunjuk, kemantapan hati, de el el apapun permintaan kita. Begitupun saat kita senang, gembira, mendapat kenikmatan, maka segera berucap syukur, “barangsiapa yang bersyukur maka akan ditambahkan kenikmatannya, barangsiapa yang kufur maka tunggulah azab yang pedih”. Dengan cara itulah kita tunjukkan ketaatan kita sebagai  seorang hamba yang ‘melek’ atas peringatan yang Allah lontarkan.
Yuk, sama-sama kita mulai perhatian atas perhatiannya Allah kepada kita. Jangan sampai karena begitu congaknya kita karena tak menggubris peringatan Allah lantas Allah memberi punishment-Nya, berupa kebutaan mata, hati, dan pikiran kita. 
naudzubillah min dzalik!


Mustika bilang, dalam keadaan apapun kita harus tetap kembali pada Allah. Ustadz Yusuf Mansur bilang,  Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Terkahir, saya bilang, kiblatkan segalanya hanya pada Allah. J


Dini Fitrah Eristanti

Kamis, 14 November 2013

Bahasa & Kita



“Enough ! Stop it !“, Juki.
“Don’t yell at me !”, Bang Uyan.
Mak Juki, “Cukup ! Gue baru aja kehilangan bayi gue, kenapa gue juga harus kehilangan bangsa gue di rumah gue sendiri ?!”
Dialog ini saya kutip dari sebuah sinetron religi yang tayang pada Romadlon lalu. Apa yang diucapkan oleh Mak Juki, menyiratkan sebuah ideologi yang hilang yakni ; Bahasa sebagai identitas sebuah bangsa.

Penobatan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional membuat hampir seluruh negara mewajibkan penduduknya untuk bisa berbahasa Inggris. Di Indonesia sendiri, hal ini dilakukan dengan memasukkan pelajaran bahasa Inggris dalam kurikulumnya. Dan tidak tanggung-tanggung, bahasa Inggris diberikan sejak siswa masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak.

Bukan hal yang buruk memang. Hanya entah sejak kapan terbentuk sebuah paradigma bahwa ia yang cakap berbahasa Inggris adalah “keren”. Orangtua bangga jika anaknya yang Balita mampu menyebutkan nama-nama benda dalam bahasa Inggris. Para remaja merasa gagah bila lancar “cas cis cus” bahasa Inggris. Lantas dimana posisi bahasa Indonesia kita tempatkan ?

Sudah sedemikian tergeser posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional kita.
Bahasa sebagai salah satu instrumen dalam komunikasi manusia menjadi indikator yang cukup jelas mencerminkan pribadi/karakter penggunanya. Maka ketika kita merasa “keren” berbahasa asing, bukankah itu cukup menjelaskan karakter bangsa kita yang memang sering merasa bangga dengan “barang” milik orang lain. Tak hanya itu, faktanya kini muncul istilah-istilah yang lazim kita ketahui disebut dengan “bahasa alay”. Penggunanya, tentu saja generasi muda. Kata-kata seperti “ciyuuz”, “miapah”, “clalu”, “chayank” dan banyak lagi, ini sedang sangat digandrungi oleh anak-anak muda. Sepintas memang tak ada masalah. Sah-sah saja bukan untuk menggunakan bahasa semau kita ? mau kita ucapkan seperti apapun, atau kita tulis bagaimanapun, asal lawan bicara kita mengerti, ya boleh saja !. “lagian kan Cuma becanda..!” begitu dalih mereka.

Tanpa disadari, ada nilai-nilai yang “terbunuh”. Keseriusan salah satunya. Setiap hal yang terjadi dalam hidup dihadapi dengan ringan. “jangan terlalu serius lah.. nanti malah stres.” Itu komentar yang terlontar ketika ada salah satu pihak mengkritisi fenomena “bahasa alay” tersebut. Tapi ini memang serius.

Ajip Rosidi dalam rubrik Stilistika yang  dimuat oleh koran Pikiran rakyat menulis, bahasa selalu berubah. Dan perubahan ini mempengaruhi cara berfikir, mempengaruhi konsep diri dan mempengaruhi sistem nilai di masyarakat. Karena seringkali perubahan bahasa ini tidak dibarengi dengan konsep yang jelas sehingga membuat bias makna hakikinya. Itulah yang terjadi saat ini. Bukan bahasa Indonesia yang baik dan benar yang digunakan, melainkan bahasa alay yang merusak tatanan bahasa.

Degradasi nilai-nilai kehidupan salah satunya melalui bahasa, dan sasarannya tentu saja generasi muda. Jadi harus ada rekonstruksi nilai yang dimasukkan dalam pelajaran bahasa di sekolah-sekolah. Mesti ada kerjasama dari setiap elemen masyarakat agar bahasa yang santun tetap hidup. Agar generasi muda tetap merasa “gagah” berbahasa Indonesia yang baik dan benar, dan tidak meng’alay’kan terminologi-terminologi yang ada.

Karena kita sebagai pengguna bahasa menjadi cerminan karakter bangsa kita, bangsa Indonesia.

Iim Halimatus sa'diah
KKI 2012